Toleransi

Hari ini saya mau bercerita tentang sedikit pengalaman mimpi. Sebenarnya cerita ini sudah saya tulis tahun 2019 lalu. Tapi tidak di publis, dengan alasan ini dan itu. Terutama tidak pede untuk menulis, karena merasa tulisan tidak bagus. Tapi sekarang, mau gimanapun tulisannya, apapun isinya, selama tidak melanggar hukum, ya ekspresikan aja. Demikian juga dengan cerita ini, saya berpikir untuk menulisnya ulang karena wabah tahun 2020 ini membuat banyak manusia semakin kehilangan rasa kemanusiaan dan persaudaraannya, semakin intoleran terhadap sesama manusia sebangsa sendiri. Semoga dengan tulisan ini, bisa menjadi perbandingan untuk semakin menumbuhkan rasa toleransi dan persaudaraan antar sesama.

Malam tadi saya mengalami mimpi yang cukup unik. Mimpinya sedikit abstrak, tapi bagi saya itu memberikan kesan yang luar biasa. Dalam mimpi itu, saya menghadiri ibadah di sebuah gereja Katolik. Dari belakang saya melihat ada seorang ibu mendatangi ibu lainnya. Si ibu itu berkerudung dan mereka tampak bercerita sambil tertawa ria bersama. Lalu mereka kembali duduk dengan tenang dan khusyuk. Kemudian mimpi saya tiba-tiba melompat ke sebuah masjid. Saya tidak tahu persis masjid apa namanya. Disana saya melihat si ibu yang berkerudung yang datang ke gereja tadi. Dia baru saja keluar dari dalam masjid dibalut pakaian ibadah yang lengkap. Diteras masjid, si ibu dari gereja tadi sudah menunggu. Pas jumpa, mereka berpelukan dan kembali bercerita dengan sangat senang. Begitu hangat dan menyejukkan hati. Mimpinya sampai disitu saja dan saya tiba tiba terbangun.
Ada satu hal yang menarik dari mimpi ini. Yaitu kisah persahabatan dua orang ibu yang berasal dari latar belakang yang berbeda dan bisa dibilang bertolak belakang. Tanpa mengurangi sedikit pun nilai nilai keagamaan mereka, mereka tetap bisa menganggap saudara dan sahabat dari latar belakang yang berbeda dengan mereka. Si ibu Muslim mendatangi gereja untuk menjumpai sahabatnya dan berbagi kebahagiaan. Si ibu Kristiani mendatangi masjid untuk bertemu dengan sahabatnya dan berbagi kebahagiaan juga. Mereka seolah olah mematahkan batasan duniawi dan fisik yang melekat pada mereka tanpa mengurangi setitik pun nilai rohaniah dari ajaran agama masing masing. Mereka menumbuhkan yang namanya pohon toleransi ditengah mereka. Dan melihat dan mengalami mimpi tentang kedua ibu ini, rasanya sangat memberikan kedamaian.
Dan yang paling kebetulan setelah mimpi itu adalah saya tiba-tiba teringat tahun 2019 lalu. Tahun politik dan elektoral yang sudah semakin panas dan mendidih. Apalagi menjelang pemilu beberapa hari lagi. Tahun ini merupakan salah satu tahun terburuk didalam hal intoleransi dan buruknya persahabatan. Dimana terjadi saling memaki dan menjatuhkan diantara sesama anak bangsa. Dan bahkan yang satu agama pun, satu suku, bahkan satu kantor, rela saling memaki hanya karena beda kubu politik. Batasan-batasan duniawi dan fisik tadi seolah olah terbangun dengan jelas dan kokoh hanya karena beda pilihan politik. Seolah-olah mengalahkan tembok rohaniah dan nurani manusia. Intrik politik seakan-akan ditutupi oleh kebajikan agama. Narasi pembodohan dan kampanye negatif dibungkus rapi dengan desain akal sehat. Empati dan simpati rakyat yang tulus dijadikan tameng untuk menciptakan narasi korban ketidakadilan. Yahh, siapa saja bisa berubah jadi manusia robot tanpa hati di tahun politik dan elektoral tersebut. Tidak peduli satu suku atau agama, semuanya akan digilas. Dan tentunya, akibat paling parah dari kehilangan rasa toleransi itu sendiri adalah kemunduran demokrasi dan perpecahan. Dengan intoleransi yang semakin berkembang, pihak-pihak asing dan yang berkepentingan di negara ini akan sangat mudah menyusupi masyarakat kita yang sangat beragam ini, menciptakan isu-isu sektoral dan memecah- belah anak bangsa.
Nah, lantas dengan adanya akibat yang ditimbulkan oleh rasa intoleransi tersebut, sudahkah kita sadar diri dan mengutamakan toleransi daripada ego-ego saktoral ? Seperti kedua ibu dalam cerita diatas, mereka tidak peduli dengan batas-batas fisik dan duniawi. Mereka tidak mementingkan ego sektoral, ego keagamaan mereka daripada rasa kemanusiaan dan akhlak yang di ajarkan agama. Tanpa mengurangi nilai-nilai rohaniah mereka, persahabatan beda latar belakang mereka tetap berjalan. Begitu damai dan tidak akan mudah diadu domba, di pecah-belah, apalagi dikuasai oleh pihak-pihak asing dan yang berkepentingan lain. Dengan adanya toleransi, maka nurani dan akal sehat akan tumbuh dengan baik. Propaganda dan narasi-narasi pembodohan yang dibungkus dengan narasi akal sehat, yang dibungkus dengan kebajikan agama, narasi yang diciptakan layaknya menjadi korban ketidakadilan yang dimainkan oleh segelintir orang, dan kampanye kampanye negatif lain akan dengan mudah di tepis oleh masyarakat. Dengan toleransi, kemajuan demokrasi di suatu negara akan berkembang dengan cepat menuju kearah baru yang lebih baik. Dan akan membawa sebuah bangsa kearah kemajuan peradaban yang pesat. Dan yang paling penting adalah fondasi kebangsaan dan persatuan kita akan kuat karena tumbuhnya toleransi. Bangsa yang besar dan kuat sudah semestinya diawali dengan TOLERANSI YANG KUAT.

Sekian. Semoga bermanfaat.


YP

Komentar